Pengungsi Rohingya Menangis Usai Bertemu dengan Utusan DK PBB


May 24, 2018

Pengungsi-pengungsi Rohingya yang ada di kamp pengungsi Cox’s Bazar, Bangladesh, akhirnya berhasil mencurahkan segala keluh kesahnya ketika dikunjungi oleh delegasi utusan dari DK PBB (Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa) tepatnya hari Minggu, 29 April 2018. Mereka meminta batuan supaya bisa pulang ke kampung halamannya dengan selamat yakni ke Myanmar.

Menangis Terharu

Beberapa anak dan wanita menangis dan mereka juga memeluk Duta Besar Inggris untuk PBB, Karen Pierce, ketika bercerita apa yang terjadi kepada mereka. Pengungsi-pengungsi itu meminta keadilan atas pembunuhan, pembakaran dan pemerkosaan yang telah menyebabkan mereka mengungsi dari kampung halaman mereka yakni di negara bagian Rakhine, Myanmar.

“Hal ini merupakan bahwa tantangan sangat besar, ketika kita sebagai DK PBB mencari jalan bagaimanakah mereka pulang,” ungkap Pierce dilansir dari CNN Indonesia. “Hal yang paling menyedihkan adalah tak ada yang bisa kita lakukan sekarang ini yang bisa mengurangi penderitaan mereka,” lanjutnya lagi.

Dikabarkan bahwa utusan-utusan DK PBB yang akan bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, akan melangsungkan pertemuan tersebut hari ini, Senin (30/4). Mereka sebelumnya mampir ke kamp pengungsi yang Kutupalong, Cox’s Bazar, hari Minggu (29/4). Kamp pengungsi agen bola terpercaya yang kering, berdebu, dan gersamg itu mampu menampung sebanyak 700 ribu warga Rohingya yang mana menyelamatkan diri dari Rakhine Utara, Myanmar.

“Sangat mengharukan, saya belum pernah menyaksikaƄ kamp pengungsi seperti ini. Bencana akan terjadi jika hujan mengguyur,” ungkap Deputi Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Currie.

Beberapa pejabat PBB dan juga relawan kemanusiaan telah menyerukan kekhawatiran mereka akan datangnya musim hujan yang mana memperburuk situasi yang ada di penampungan pengungsi tersebut. Ratusan ribu pengungsi itu tinggal di gubuk-gubuk yang pasalnya terbuat dari plastik, terpal, dan bambu yang dibangun sangat ala kadarnya. Banyak sekali yang berada di area perbukitan yang curam atau bahkan sebaliknya yakni di dataran rendah yang sangat rawan dilanda banjir.

Tanggapan Pihak Myanmar

Win Myat Aye, Menteri Kesejahteraan Sosial Myanmar yang mengunjungi kamp pengungsi itu pada awal bulan ini juga mengakui bahwa dirinya prihatin dengan kondisi yang amat buruk itu.

Ratusan ribu pengungsi dari Rohingya terus mengalir dari Rakhine Utara, Myanmar, menuju ke perbatasan Bangladesh sejak bulan Agustus lalu. Ketika militer Myanmar menggelar operasi sebagai usaha mencari penyerang-penyerang pos-pos keamanannya. Operasi tersebut digambarkan oleh PBB, Inggris dan AS sebagai operasi pembersihan etnis minoritas. Namun Myanmar membantah tuduhan itu.

Ratusan pengungsi di sana menyambut utusan-utusan DK PBB dengan berbaris dan membawa spanduk yang bertuliskan “Kami menuntut keadilan”. Tidak hanya itu, mereka juga menulis “Kami berdiri di sini untuk menuntut keadilan karena mereka (para militer Myanmar) telah membunuh pria-pria kami, dan juga menyiksa perempuan, kami juga mendesak untuk mencari keadilan atas pelanggaran tersebut,” ungkap seorang pengungsi, Sajida Begum, seperti apa yang dilansir oleh CNN Indonesia.

Pada para utusan DK PBB tersebut, beberapa pengungsi perempuan mengaku bahwa pasukan Myanmar telah memperkosa mereka dan menyerang anak-anak mereka serta membunuhi suami mereka. Akan tetapi tanggapan Myanmar berbeda. Mereka mengaku bahwa operasi militer yang dilakukan di Rakhine adalah sebuah tindakan yang sah untuk merespons serangan yang dilakukan oleh gerilyawan Rohingya. Tentu saja ini mengundang perhatian dari para utusan DK PBB yang berkunjung ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *